Bismillah...
Catatan ini hanya sebuah perenungan dari hasil tafakkur, semoga dapat menginspirasikan kita untuk tidak berbuat dosa...
hari itu hari minggu, 16 mei 2010, ketika sehari sebelumnya tepatnya pada ba'da magrib saya mendengan dan mendapatkan informasi tentang meninggalnya tetangga akibat tersengat petir, kejadian itu sore hari dan pada saat gerimis di daerah Semarang. Minggu pagi itu anak saya (Hanif) yang masih duduk di play group di desa Penanggulan Kecamatan Pegandon akan melakukan tadabbur alam di Sendang sikucing dan Bon Bin Semarang. Sembari menyiapkan perlengkapan anak saya, istri tercinta , mengingatkan saya untuk ta'ziyah, kebetulan saya sudah pindah rumah di Cepiring dan yang meninggal di desa Penanggulan yang jaraknya kurang lebih 7 KM. Hanif dan Kedua Kakanya yang masih SD juga ikut membantu menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa, "Mbak aquane isih nang mejo, durung dilebokke tas" ucap Rahma kepada Kakanya Arini, " Yo.." Jawab arini kepada Adiknya. Setelah persiapan selesai berangkatlah kami ke desa Penanggulan (tanah kelahiranku) untuk mengantar anak tadabbur dan saya berta'ziah di tempat tetangga. Tepat jam 08:00, 2 buah minibus Berangkat ke Tempat tujuan.
Berdasar informasi yang disiarkan melalui Corong Speaker Masjid bahwa Jenazah akan dimakamkan pada pukul 09.00 WIB. Waktu menunjukkan pukul 08.15 saya bersiap mmelayat dengan memakai baju hem lengan pendek dan sarung pemberian nenekku beserta kopiah sulaman nenekku juga. Aku keluar rumah dan bersalaman dengan para pelayat lain, tak lama berselang datang Mas Itqon Putera pertama Gus Ali Haikal bersama adiknya yang masih 3 tahunan. Aku bersalaman dengan mereka, trus melanjutkan bersapa dengan bahasa pembuka " Pripun kabare sami sehat?" "alhamdulillah wilujeng" Mulailah pembicaraan berlanjut. Tema pertama tentang pendirian sekolah yang pernah direncanakan Gus Ali. "Pripun sios ndamel sekolah?"
Wednesday, 26 May 2010
Subscribe to:
Comments (Atom)